Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja

•September 22, 2008 • Leave a Comment

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun.” Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja: menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.

Kaca Spion

•September 16, 2008 • Leave a Comment

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa
Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia .. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu.. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh.. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Andy Noya

Cara Membuat Pelanggan tetap Senang, Meski Harga Anda Naik

•September 12, 2008 • Leave a Comment

Ibarat buah simalakama. Saat ini, berbagai komponen biaya produksi naik, tak urung membuat pengusaha harus berpikir ekstra keras. Bagaimana cara cerdas menaikkan harga, dengan tetap mempertahankan pelanggan loyal?

KONDISI SAAT INI;

a. Krisis, resesi. Kebanyakan orang mengurangi kegiatan konsumsi dan belanja mereka. Bahkan ada yang berhenti membeli produk kita karena mereka beralih ke produk pesaing yang lebih murah. Apa tindakan kita, di sini?

b. Inflasi telah mendorong kenaikan biaya komponen produksi dan operasional usaha. Bila kita tidak menaikkan harga, sama saja kita siap merugi, bahkan gulung tikar perlahan.

Dalam kondisi ini, kita punya DUA PILIHAN TINDAKAN:

PILIHAN pertama : Untuk mendapatkan pelanggan baru, dan mempertahankan pelanggan lama tetap puas dan loyal, kita harus mempertahankan harga lama. Bahkan menurunkan harga. Memberikan diskon (tapi dengan ukuran kemasan produk yg sama)

PILIHAN kedua: Jadi bila kita ingin bertahan, mau tidak mau, kita harus menaikkan harga.

Sebenarnya pilihan mana yang akan Anda pilih, terserah Anda. Tapi menurut saya, the only reasonable option (keputusan logis dan rasional) adalah Anda harus menaikkan harga. Bila demikian, maka kita punya PR utama menginformasikan kenaikan harga dg cerdas, gentle, dan tetap bisa membuat pelanggan tidak terlalu kecewa.

Ada sedikitnya LIMA CARA MENAIKKAN HARGA tapi PELANGGAN TETAP SENANG:

Ada sedikitnya LIMA CARA MENAIKKAN HARGA tapi PELANGGAN TETAP SENANG:

a. Buat kenaikan harga tidak kentara. Dengan cara create produk baru dengan komponen dan fungsi tambahan. Sebenarnya produk baru ini adalah produk lama yang Anda inovasi atau kombinasikan dalam satu paket produk (yang tampak) baru dg manfaat tambahan. Hapus produk lama (produk dg harga lama). Tawarkan kepada pelanggan produk baru Anda yang lebih bagus tadi. Ini akan jadi alasan dan momen tepat Anda mengajukan harga baru Anda (yang lebih mahal).

b. Terapkan kenaikan harga secara bertahap. Siapapun pelanggan Anda, mereka pasti akan terkaget-kaget bila harus menghadapi kenaikan harga berlipat ganda sekaligus pada satu saat yang mendadak. Kenaikan harga akan lebih mudah mereka terima bila dalam jumlah sedikit demi sedikit dalam beberapa jeda periode waktu.

c. Tambahkan fasilitas yg tidak membutuhkan biaya mahal. Tapi dari segi manfaat, it makes a huge difference to your product/service. Fasilitas baru tersebut bisa membuat produk Anda ‘beda’ dan membuat produk Anda lebih unggul dibandingkan pesaing.

d. Menambah fasilitas melalui kerjasama/kolaborasi/barter sponsorship dg pesaing atau mitra bisnis. Fasilitas tambahan bisa berupa bonus atau manfaat ekstra yang disediakan oleh mitra. Dengan kata lain added value ini tidak harus disediakan Anda sendiri.

e. Meningkatkan kualitas layanan dari komponen yang tidak kasat mata, namun sangat membekas dan bernilai di benak pelanggan. Seperti: peningkatan disiplin karyawan, layanan lebih cepat dan tepat waktu, ekstra ramah tamah dan sigap melayani pelanggan.

Bila Anda sudah lama tidak menaikkan harga, pelanggan Anda tidak akan serta-merta marah dan kecewa dengan kenaikan harga yang Anda lakukan. Adanya inflasi dan krisis, sebenarnya sudah membuat banyak orang maklum dan mengekspektasikan kenaikan harga. Termasuk pada produk Anda.

Kenaikan harga, akan membuat sebagian pelanggan tetap membeli produk Anda. Namun, akant tetap ada sebagian pelanggan lainnya yang memilih untuk berhenti membeli produk Anda dan beralih ke produk pesaing.

Bila Anda sudah melakukan berbagai cara meningkatkan manfaat produk, tapi tetap saja ada sebagian pelanggan Anda pergi, Anda tak perlu terlalu risau. Bisa saja, pelanggan Anda ‘pergi’ karena sudah tidak punya pilihan. Mereka tidak memiliki uang untuk membeli produk Anda.

Dengan kata lain, mereka tak lagi termasuk bagian dari segmen pasar Anda. Akan datang pelanggan lain membeli produk Anda yang juga beralih dari kompetitor Anda yang lebih mahal. Dan mereka sekarang memilih membeli produk Anda karena bagi mereka Anda lebih murah dengan manfaat produk berlebih.

Win and Loose dalam bisnis tak bisa dipisahkan dari realita bisnis.

You win some, You loose some..

inspirasi dari www.customerladder.com

The Implementation of Kiyosaki’s Role in Jakarta

•September 12, 2008 • Leave a Comment

Pengantar:

Di bawah ini hasil dialog seorang Senior/mentor bisnis yang dirangkum oleh saya, di milis Tetangga, saya anggap dia sebagai KIYOSAKI IMPLEMENTOR karena apa yang saya baca dari buku seri RTK, sudah dijalankan oleh beliau, selama ini buat saya bacaan karangan Kiyosaki hanya mengawang-ngawang di tataran konsep saja … mmmm, saya bolak balik membaca dan merenung, sambil MENCOBA menguji nyali dengan beberapa contoh implementasinya … silakan disimak, sebuah harta karun dan ilmu karun mungkin tersingkap di dalamnya, menurut saya taraf beliau sudah bisa jadi MENTOR BUSINESS, jarang ada mentor bisnis di level seperti dia yang mau memberikan bimbingan secara Cuma-cuma, tulisan beliau membuat saya sedikit terbuka dan terbayang bagaimana implementasi Financial Freedom dilakukan.

MuchsinKosen

-EmKa-

Dibawah ini adalahTulisan Pak Budi Rahmat (BR = Budi Rahmat) beserta dialog beliau dengan yang lain.

Rekans,
Saya mo sharing tentang Robert T.Kiyosaki dan pemikirannya.

Saya sudah baca -+ 9 buku RK dan menurut saya yg dikemukakan oleh RK adalah mengenai INCOME/PENDAPATAN atau tepatnya CASHFLOW/ARUS KAS. BUKAN STATUS (sebagai karyawan/pegawai atau pemilik small shop atau pemilik Big Bisnis atau Investor). Jadi yang dikemukakan adalah darimana sebenarnya income/pendapatan itu berasal, bukan apa status kita.

Nah… darimanapun income itu bisa berasal dapat diklasifikasikan kedalam kuadran E,S,B,I.

E(mployee),

adalah mereka yang bekerja untuk mendapatkan GAJI. Kerja 8jam sehari, 5-6hari seminggu, 25hari sebulan… terima Gaji. Klo ngak masuk kerja (dalam waktu yang lama)… maka gaji akan hilang.
contohnya: Karyawan / pegawai.

S(mall bisnis owner),

adalah mereka yang bekerja untuk diri sendiri. Mereka yang membuka toko, warung, small biz… terima hasil-usaha.
Anda datang ke toko/warung/kantor dibuka, anda tunggu (bekerja, berjualan, me-run biz)… terima hasil usaha (keuntungan).
adalah biz atau pekerjaan dimana ANDA harus meluangkan waktu untuk pekerjaan tsb agar dapat menerima hasil usaha-nya…
Klo toko, warung, kantor ngak dibuka…. ngak terima hasil-usaha.
contohnya:
- Artis (Penyanyi)… waktu nyanyi (bekerja)… dibayar (terima uang)… ngak nyanyi… ngak terima uang.
- Small biz (toko, warung, kantor)… ngak dibuka… ngak terima hasil-usaha.
- biz Yogen yang saya lakukan….
dalam 1 minggu saya harus ke lokasi minimal 3x… 1-2jam di lokasi / counter… cek stock, ambil omset, briefing dgn pegawai dsb.dsb.dsb…. terima hasil usaha…
Klo saya tidak datang dalam seminggu, maka minggu depan tidak bisa jualan.
demikian pula dengan Toko Jaket di Pusat Grosir Metro Tanah Abang dan Toko Voucer HP di ITC M2….

B(ig bisnis owner)

adalah Biz atau Usaha yang sudah ada sistim-nya… terima hasil-usaha.
Ada Direktur-nya, Manager-nya, Karyawan-nya (ada sistim-nya) yang melaksanakan pekerjaan / biz tersebut.
Dimana si owner tidak perlu ikut aktif dalam day-to-day kegiatan biz.
Si owner mo tidur2an dirumah, mo ngerjain biz lain…. tetap terima hasil-usaha.
contohnya;
- Biz Alfamart saya…. adalah biz yang di-run oleh si master franchise (full operated by master franchise). Klo saya tidak datang ke toko (selama 5 tahun pun), toko saya akan tetap buka dan biz jalan seperti biasa… karena ada orang yang di-pasrah-kan / didelegasikan untuk menjalankan toko tsb dengan baik (= ada system-nya),


I(nvestor).

adalah uang bekerja sendiri…. tanpa kehadiran anda.
contohnya;
properti saya yang menghasilkan hasil-sewa (karena disewakan), dan menghasilkan hasil usaha (dari Alfa ke-2).

Contohnya;
Income seorang dokter bisa berasal dari E,S,B,I yaitu;
- pagi dia praktek RSUP sebagai pegawai negri — income dari kuadran E.
- sore praktek di rumah sebagai dokter ahli — income dari kuadran S.
- dia punya klinik bersama yang dikelola para profesional — kuadran B.
- dia beli beberapa apartemen/rumah untuk dikontrakan — kuadran I.

Tidak ada yang ” tidak baik” dari kuadran2 tersebut, menurutku yg ” tidak baik” adalah bila tidak mempunyai income.

Setiap kuadran mempunyai karakter masing2, antara lain;
- kuadran E dan S (Kiri) adalah Aktive Income.
Dimana untuk mendapatkan income tsb diperlukan WAKTU yang sangat signifikan.
- kuadran B dan I (Kanan) adalah Pasive Income. Dimana untuk mendapatkan income tsb tidak diperlukan WAKTU yang banyak/panjang, seperti di Aktive Income.

Pandangan lainnya yang menarik dari RK adalah hubungan antara INCOME dan EXPENSES dengan ASET dan LIABILITI (kewajiban), yaitu;
Aset : adalah harta/pekerjaan/sesuatu yang menciptakan INCOME,
Liabiliti : adalah harta/pekerjaan/sesuatu yang menciptakan KEWAJIBAN/expenses.

Sebelum baca buku RK, saya pikir, rumah, mobil,apartemen yang saya miliki adalah Aset…..
eecchhh…. setelah baca buku, ternyata Liabiliti…..karena telah meciptakan KEWAJIBAN… bayar listrik,
air, penjaga rumah, bensin, service dsb….

Pandangan lainnya, yaitu FF = 3PI-E (Financial Freedom = 3 Passive Income – Expenses) , yaitu:
seseorang yang disebut Financially Freedom jika Pasive Incomenya 3 x lebih besar dari pada Expensesnya.

—————————————————————-

ada 1 RUMUS yang menarik dari robert kiyosaki yaitu yang namanya Financial Freedom bisa dicapai jika Income kita adalah 3 x PASSIVE income lebih besar daripada Expenses kita.

Mudah-mudahan menginspirasi kita semua.

thx pak budi rahmat atas sharing tulisannya.

Cara Memandang Dunia

•September 12, 2008 • Leave a Comment

Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan andapun jadi kerdil.

Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, andap pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui diatas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. dan dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

Sedikit Demi Sedikit Lama-lama menjadi Bukit

•September 12, 2008 • Leave a Comment

Pepatah Lama yang sederhana ini bila kita memaknainya dengan sederhana bahwa bila kita mengumpulkan sesen demi sesen, pada saatnya kita akan mendapatkan sepundi. namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat atau ketekunan menabung.

Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung keping uang, yaitu: bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya. Ucapan terima kasih, sesungging senyum tulus, sapaan ramah atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja. Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan Anda.

Hello world!

•June 25, 2008 • Leave a Comment

apa kabar dunia??

tulisan pertama yang saya goreskan di blog saya ini, aneh uda hampir 2 bulan saya aktifkan account di wordpress cuma belum ada inspirasi untuk tulisan di blog saya ini. isi di blog ini booleh dibilang gado-gado deh, sekumpulan puzzle yang menghiasi keseharianku. sekumpulan puzzle yang jika disatukan menyatu dalam diriku yang menunjukkan tujuan hidupku ke depan.

awal perjuangan baru dimulai setahun yang lalu sktr tahun2007 awal, banyak tanda tanya yang muncul dipikiranku ketika membayangkan apa yang harus saya lakukan ketika saya selesai wisuda. cuma 2 kata yang membuatku banyak berpikir, “Usaha apa Kerja??”.

saya punya impian yang ingin dicapai, saya sendiri flash back ke belakang waktu masih les privat di Success (salah satu sekolah les privat bahasa inggris di medan),waktu itu disuruh buat tulisan mengenai impian yang ingin saya capai ke depan, ada 1 impian besar yang keingat sampai sekarang yaitu membahagiakan orangtua dan bisa membangun keluarga kecil yang bahagia. kalau impian yang saya tuliskan diatas terkesan berada di tataran yang masih mengawang-ngawang. jadi saya persempit lagi, cara membahagiakan orangtua?? ehm..sangat simpel,apakah dengan mengirim uang ke orangtua bisa membahagiakan mereka?oh tentu tidak.. banyak cara misalnya mengenai masalah perkuliahan, saya harus cepet-cepet tamat kuliah tapi yang penting saya bisa mengaplikasikan disiplin ilmu yang saya pelajari di kuliah, cara simpel lainnya dari saya, selalu ingat atau rutin berkomunikasi dengan orangtua. itu masih saya lakukan sampai sekarang. tapi ada 1 impian jelas yang ingin sekali saya capai yaitu membawa orangtua jalan2 ke China dengan kocek sendiri (sumpeh keliatan simpel,tapi ini impianku).

dari semua itu setelah ngelewatin pemikiran yang rumit akhirnya sampai ke satu akar pikiran yang menyatu ke satu jalan yaitu I want to have my OWN BUSINESS. just it.. gimana kepikiran di usaha seputar tinta, lucu juga sih, simpel ngeliat usaha temen yang memang usaha 1 keluarga fokus di usaha tinta ini, saya amati, setelah itu saya cek harga jual di bandung, dan lain-lain alias studi kelayakan bisnis ala Gue,hehe..

dari studi kelayakan bisnis ala Gue sangat simpel, saya cuma memakai 3 indikator sederhana yaitu PRODUCT, CUSTOMER, PLACE. juz it..

setelah itu gimana ceritanya saya nyangkut ke satu temen, dia ingin join-an di usaha ini then pas ada 1 temen lagi yang ingin join-an di bisnis ini jadi ceritanya 3 serangkai ini memulai dunia baru. awal cerita bisnis ini dilakukan keroyokan di rumah kontrakan temen, nawarin ke tmn2 then ke perusahaan temen, sampai suatu hari kita mutusin harus ada toko, setidaknya dengan ada toko, setiap hari kita jadi mikirin usaha ini soalnya kan fixed cost jalan terus, dengan adanya toko, setidaknya konsumen merasa kita capable di bidang kita.

Usaha di bidang spesialisasi seputar printer ini sudah kita jalanin hampir 2 tahun, banyak ilmu yang saya dapat disini, serius jika ditekuni usaha yang dimulai dari benar-benar NOL, gimana cara kita survive, nutupin fixed cost, then jor-joran di luar jadi sales person di lapangan, pernah dipuji konsumen walaupun pernah juga dimarahin oleh konsumen tapi setidaknya dari hal ini membuat kita berpikir dari kacamata konsumen betapa mereka ingin dilayani dengan baik. OK tidak jadi masalah,ini sudah jadi pengalaman hidup yang sangat berharga.

sampai sekarang, pertanyaan yang sering ditanyakan dari teman-teman ke saya (yang saya rangkum) cuma 2 yaitu : “serius lo sin cuman mo hidup dari toko kecil ini?” atau “sin, gak mo lanjut ke S2?cuman nongkrong di toko kecil ini?”

hehe sebenarnya isi dari 2 pertanyaan diatas sama yaitu mengenai keputusan yang saya ambil memulai usaha dari benar-benar NOL. saya tidak bilang saya hebat setidaknya saya berani meyakinkan keluarga dan terutama diri sendiri bahwa pilihan hidup yang saya buat tidak salah. yang selalu saya ingat life is about making choice, semua pilihan hidup mempunyai resiko, yang menjadi tantangan adalah cara kita meminimalisir resiko tersebut.

itu dulu deh buat permulaan di blog saya.. nanti kapan-kapan curhat lagi..

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.